Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Wednesday, 23 October 2013

Gotong Royong untuk 86,4 Juta Orang Miskin

Gotong Royong untuk 86,4 Juta Orang Miskin

OLEH: DAHLAN ISKAN
(Menteri BUMN)

PAGI ini di Sukabumi. Seluruh direktur utama BUMN berkumpul. Di Sukabumi mereka membubuhkan tanda tangan pertanda ikut gotong royong. Mengikutkan seluruh karyawan dan keluarga mereka ke program BPJS Kesehatan.

Bapak Presiden SBY hadir di acara ini. Beliau tidak hanya menyaksikan. Beliau ingin program bersejarah yang terjadi di era kepemimpinan beliau ini sukses.

BPJS memang akan mengubah sistem jaminan kesehatan nasional. Tahun pertama baru menyangkut 86,4 juta orang, tapi inilah dasar yang kokoh untuk sistem kesehatan negara modern ke depan.

Karyawan BUMN dan keluarganya tidak termasuk yang 86,4 juta itu. Keikutsertaan BUMN bisa menambah kualitas layanan untuk yang 86,4 juta orang itu.

Siapakah 86,4 juta orang itu? Mereka adalah rakyat miskin dan hampir miskin. Mulai tanggal 1 Januari 2014 depan, kesehatan mereka ditanggung pemerintah. Melalui layanan Askes yang berganti nama BPJS Kesehatan.

Baru kali ini terjadi dalam sejarah Republik Indonesia, pengobatan untuk seluruh orang miskin dan hampir miskin ditanggung oleh pemerintah.

Tentu layanan yang bisa diberikan kepada 86,4 juta orang miskin itu belum akan memuaskan. Tiap orang baru mendapat jatah Rp 19.000 per bulan. Rata-rata. Artinya kalau banyak yang tidak sakit, jatah untuk yang sakit bisa lebih besar dari itu.

Meski belum memuaskan tapi sejarah sudah dimulai. Meningkatkannya akan jauh lebih mudah dari pada memulainya. Ini bukan hanya soal uang. Tapi juga komitmen. Di dalamnya menyangkut pembangunan sistem. Termasuk membangun kapasitas pengelolaannya.

Sesuai dengan UU No 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, BPJS Kesehatan tidak di bawah BUMN. Mulai 1 Januari depan, PT Askes (Persero) menjelma jadi BPJS Kesehatan dan bukan lagi BUMN.

Kita akan punya pengalaman baru. Sebuah lembaga layanan masyarakat tidak berbentuk perusahaan.

BPJS tidak boleh mencari laba. Dana operasional BPJS Kesehatan dijatah dari persentase dana kesehatan yang diperoleh dari APBN. Juga tidak boleh punya anak perusahaan. Karena itu anak perusahaan PT Askes, PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia akan diakuisisi BUMN lain sebelum akhir tahun ini.

Banyak yang mengkhawatirkan sistem pengelolaan yang seperti itu tidak akan merangsang manajemen BPJS untuk maju. Tidak ada sistem insentif yang memadai. Tapi biarlah semua berjalan dulu. Kalau BUMN mempersoalkan itu nanti terkesan tidak rela melepaskannya.

Mengapa keikutsertaan BUMN disebut gotong royong? Ini karena keikutsertaan BUMN akan memperkuat BPJS. Si kuat membantu yang lemah. Si muda membantu yang tua. Si sehat membantu yang sakit.

Dirut PT Askes Fachmi Idris berhasil meyakinkan itu. BUMN akan membayar ke BPJS Rp 50.000 per bulan per orang. Karyawannya muda-muda sehingga diasumsikan masih jarang sakit. Pendidikannya juga lebih tinggi. Kesadaran hidup sehatnya lebih tinggi.

Dirut Askes harus sebanyak mungkin mencari peserta yang seperti BUMN itu. Agar semakin banyak yang ikut gotong royong. Dengan demikian rakyat miskin yang jatahnya Rp 19.000 itu bisa mendapatkan layanan lebih baik.

Yang juga sangat penting adalah disiplin pada sistem rujukan. Jangan semua orang sakit langsung masuk RS. Rumah Sakit haruslah hanya tempat rujukan dari Puskesmas.

Dengan BPJS Kesehatan ini pengentasan kemiskinan bisa lebih berhasil. Selama ini banyak orang berhasil diangkat dari kemiskinan. Namun mereka langsung kembali miskin manakala salah satu anggota keluarganya sakit.

Selamat berpisah PT Askes (Persero). Selamat datang BPJS Kesehatan. 86,4 juta rakyat miskin menanti pelayananmu!

Mereka yang Tak Basah di Kolam Oli

Mereka yang Tak Basah di Kolam Oli


OLEH: DAHLAN ISKAN
(Menteri BUMN)

MUNGKINKAH orang yang terjun ke kolam oli tidak terkena oli? Tidak mungkin. Itulah yang sering disangkakan siapa pun terhadap siapa pun.

Kalau kolam oli itu diartikan secara harfiah, logikanya memang “hil yang mustahal” --meminjam istilah lama almarhum Asmuni Srimulat. Tapi, dalam kehidupan sehari-hari kita masih bisa menyaksikan yang disangka mustahil itu. Bahkan, contohnya cukup banyak. Mahfud MD termasuk salah satunya.

Sejak lama saya kagum dengan integritas Pak Mahfud. Kini kekaguman itu bertambah-tambah lagi. Terutama sejak ditangkapnya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar. Kita jadi tahu MK itu ternyata lembaga yang sangat basah. Bahkan basah oleh oli: calo, dagang perkara, dan sogok-menyogok. Bukan hanya oleh yang kalah pilkada. Bahkan juga oleh yang sudah menang pilkada sekalipun.

MK bisa disebut “kolam oli” karena pihak-pihak yang bersaing dalam pilkada semuanya ingin menang. Bukan hanya gengsi. Juga karena sudah telanjur habis-habisan.

Dari kenyataan itu kita juga jadi tahu betapa berat tekanan yang dialami Pak Mahfud selama menjadi ketua MK dulu. Terutama dalam menjaga integritasnya di tengah-tengah kolam oli seperti itu.

Tentu saya sangat kagum tidak hanya kepada Pak Mahfud. Tapi juga kepada orang-orang lain yang integritasnya tinggi. Terutama kepada mereka yang pada dasarnya berada di kolam oli, namun tidak terkena oli.

Dari mana orang bisa memiliki integritas? Tentu dari ujian-ujian. Orang bersih yang belum pernah diuji di dalam kolam oli belum bisa disebut teruji. Orang baru dikatakan punya integritas kalau sudah diuji. Kian berat ujiannya, bila lolos, kian tinggi integritasnya.

Pak Mahfud saya golongkan orang yang sudah mencapai integritas tinggi. Ini karena dia bukan baru sekali ini terjun ke kolam oli, tapi sudah berkali-kali. Setiap kali itu juga Pak Mahfud tidak ikut terlumur oli.

Misalnya, waktu jadi menteri pertahanan. Bukankah seharusnya Pak Mahfud juga terciprat oli perdagangan dan percaloan senjata? Nyatanya tidak.

Maka, jangan hanya menyebut-nyebut nama Akil yang dianggap bobrok itu. Sebagai imbangan, ada baiknya kita juga sering menyebut nama Pak Mahfud yang bersih. Agar selalu ada hope dalam kehidupan ini. Masih banyak Mahfud-Mahfud lain di MK dan tempat-tempat penuh oli lainnya.

Tentu saya juga angkat topi pada penggiat antikorupsi. Juga kepada mereka yang tidak korupsi. Tapi, saya sungguh hormat kepada mereka yang pernah mendapatkan kesempatan berada di kolam oli, namun tidak terkena oli.

Belum tentu mereka yang meneriakkan antikorupsi bisa terhindar dari oli ketika mereka diterjunkan ke kolam oli. Sudah banyak contohnya.

Di lingkungan BUMN tentu juga banyak contohnya. Saya pun sungguh kagum kepada orang seperti Ignasius Jonan, Dirut PT KAI. Kepada Dirut PT PLN Nur Pamudji yang akan dapat Anugerah Bung Hatta karena integritasnya. Kepada Dirut Bank Mandiri yang dulu Agus Martowardojo dan Zulkifli Zaini, maupun Dirut yang sekarang Budi Sadikin. Kepada Dirut PT Permodalan Nasional Madani Parman Nataatmadja. Kepada Dirut PT Angkasa Pura I Tommy Soetomo. Kepada Dirut PT RNI Ismed Hasanputro. Kepada... masih banyak sekali Dirut BUMN yang tidak mungkin saya sebut satu-satu.

Mereka itu, sampai hari ini, tergolong orang yang berada di kolam oli. Tapi, mereka masih bisa menjaga dirinya dari cipratan oli. Tentu mudah bagi mereka yang tidak sedang berada di kolam oli tidak terkena oli. Tapi, sungguh istimewa mereka yang sedang berada di kolam oli yang bisa terhindar dari oli. Padahal, kadang oli itu sengaja diciprat-cipratkan dari luar.

Maka, logika umum “tidak mungkin orang yang diterjunkan ke kolam oli tidak terkena oli” belum tentu cocok untuk kasus di atas. Siapakah yang memberikan apresiasi kepada mereka? Tentu ada lembaga yang sudah mengapresiasi. Bahkan ada beberapa. Kita bersyukur untuk itu.

Yang juga menarik dalam banyak contoh di atas adalah ini: mereka tidak hanya bersih untuk dirinya. Tapi juga tergerak untuk membersihkan lingkungan dalamnya. Misalnya melalui contoh nyata dari atas. Melalui konsistensi. Melalui pembaruan sistem. Melalui pengawasan yang ketat. Juga terutama melalui pembaruan sistem pengadaan barang dan jasa.

Karena itu, saya senang sekali ketika bertemu dengan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Purnomo. Yakni, saat beliau mengemukakan ide penyempurnaan sistem pengadaan barang dan jasa. Saya langsung meresponsnya.

Pak Hadi Purnomo mengatakan, penyelewengan akan mudah dilacak kalau pembayaran dari kontraktor ke subkontraktor dilakukan dengan sistem transfer bank. Tidak tunai. Dengan transfer tidak hanya mudah dilacak. Juga membuat orang takut melakukan penyelewengan.

Dalam launching “Road Map BUMN Bersih” dua pekan lalu, saya pidatokan ide ketua BPK itu. Bahkan, saya minta langsung diadopsi untuk tender-tender yang akan datang. Caranya begini. Sejak tahap unwishing, soal sistem pembayaran ini sudah harus dijelaskan kepada calon peserta tender. Dalam dokumen tender juga harus dicantumkan.

Dan, jangan lupa harus ditulis juga dalam kontrak nantinya.

Ke depan penyempurnaan sistem tender harus jadi agenda utama. Terutama dalam kaitannya dengan program pencegahan korupsi. Banyak komisi disalurkan lewat pembayaran kepada subkontraktor. Makanya, pemeriksa tidak akan bisa menemukan penyelewengan dari buku keuangan kontraktor utama.

Kalau usaha itu berhasil, kita akan memperoleh lagi kemajuan yang nyata. Kita sudah biasa memuji ketegasan beberapa negara dalam memberantas korupsi. Kini Indonesia pun mulai dipuji di luar negeri.

Waktu saya di Filipina, wartawan di sana mengatakan, “Indonesia hebat ya, siapa pun ditangkap.” Mereka mengucapkan itu dengan nada sambil mencibir negaranya sendiri. Hal senada terdengar di Thailand dan India. Rupanya, sudah menjadi kecenderungan manusia di negara mana pun: suka membanggakan negara lain seraya mencibir negaranya sendiri.

Sunday, 29 September 2013

Amien Rais : Jangan Menjadikan Orang Kafir Sebagai Pemimpin

Amien Rais : Jangan Menjadikan Orang Kafir Sebagai Pemimpin - (voa-islam.com) Selama ini banyak aktivis Islam menilai Amien Rais sudah tamat, sudah gagal secara politik, terjerumus dalam pluralisme, dituduh mencari aman di balik punggung rezim.

Tapi sebagai kader Muhammadiyah, sebagai mantan Ketua PP Muhammadiyah, ternyata Amien Rais masih punya taji, resistensi, dan militansi. Itu terbukti dari isi ceramahnya yang cukup “radikal” di hadapan kader-kader Muhammadiyah Yogya, dalam acara “Rapat Kerja dan Dialog Pengkaderan” tanggal 23-24 Februari 2013.

Ceramah yang kemudian ditranskrip itu dimuat di sebuah media internal milik Muhammadiyah. Dalam ceramahnya Pak Amien sempat bilang, “Nah, ini cuma sekedar cerita, ini tidak boleh keluar di wartawan.” Pembaca bisa baca sendiri kira-kira apa isi ceramah itu.

Karena isinya sangat penting, kami para jurnalis minta maaf ke Pak Amien, kalau ceramahnya akhirnya keluar juga ke tengah publik. Bukan tak menghargai privasi Prof. Amien, tapi kayaknya Umat perlu tahu gagasan-gagasan beliau.

Berikut ini kami kutipkan pernyataan-pernyataan Prof. Dr. H. Amien Rais dari ceramah yang ditranskrip menjadi tulisan berjudul, Kader Muhammadiyah di Pentas Politik. Karena panjangnya artikel, hanya dikutip bagian-bagian tertentu saja yang dipandang sangat urgen diketahui Umat Islam. Selamat menyimak, semoga mencerahkan!

1. FONDASI AKIDAH

Saya akan membicarakan masalah yang mendasar terlebih dulu, bahwa kita ini sebagai orang beriman diperintahkan di dunia ini, hanyalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. “Tidak aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)

Dalam pandangan orang Islam, hidup kita ini adalah bulat, tidak terbagi-bagi. Misalnya ini yang sekuler dan itu yang non sekuler, ini yang transenden dan itu yang intransenden.

Hal ini disebabkan, kita sudah memproklamasi dan mendeklarasikan, bahwa shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, aku persembahkan kepada Allah Tuhan semesta alam. Ini sudah jelas sekali.

Karena the core of our lives must be based on tauhid. Nabi kita itu pelanjut dari millah, agama, tradisi, keyakinan, dari nabi-nabi sebelumnya. (Kutipan hal. 18-19).

2. ANTI PLURALISME

Dalam hal ini saya wanti-wanti, karena kelompok non Muslim pandai sekali mencari istilah, yang enak dan sejuk didengar, yaitu pluralism atau kemajemukan.

Jangan sampai kita terseret gara-gara istilah kemajemukan itu kemudian menyangka semua agama itu seperti madzhab-madzhab yang mencari kebenaran di puncak gunung, dan boleh melewati lereng utara, lereng selatan atau barat, yang akhirnya akan sampai juga ke puncak.

Orang-orang keblinger itu seolah-olah menyatakan, bahwa semua agama itu sama.

Yang perlu digarisbawahi adalah, dari bacaan kita di koran, internet, dan sebagainya, ada semacam angin yang menyapu berbagai negeri Muslim yaitu angin pluralisme.

Sedihnya kemudian sebagian intelektualnya seperti kerbau tercocok hidungnya, tanpa menggunakan daya kritis ikut melambungkan paham pluralisme itu.

Padahal sekali kita menerima pluralisme tanpa kaca mata yang kritis, seperti kita mengerek agama Allah yang kaffah, yang diridai Allah itu, turun dari tingkat yang tinggi, seolah-olah agama kita sama dengan agama-agama yang lain.

Kadang kita tidak sadari, bahwa dengan ikut paham kemajemukan itu, kita justru sedang menurunkan martabat level agama Allah yang sempurna ini turun ke bawah, sama dengan Hindu, Budha, Kristen, Protestan, dan lain-lain.

Jadi kalau Allah mengatakan, kita harus mengimani wahyu yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim, Nabi Isa, dan lain-lain, itu bukan berarti agama lain itu sama dengan agama kita. Karena Allah juga mengatakan, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka.” (Al Baqarah: 120) (Kutipan hal. 19).

Kita ini tak boleh gegabah. Kalau anda dipuji-puji oleh orang “walan tardho” (Yahudi-Nashrani) itu jangan malah bangga. “Wah, aku pluralis.” Jangan, itu beracun. Saya punya seorang teman dekan dulu (dia dipuji sebagai Muslim pluralis). Saya jawab, “Loh, anda itu dipuji-puji begitu berarti kan Islamnya tipis, jadi komitmennya juga tipis to? Lha itulah, mereka senang dengan anda, karena anda tidak mungkin macam-macam.” (Kutipan hal. 22)

3. KERISAUAN

Muhammadiyah telah berumur satu abad. Alhamdulillah masih segar, tetapi kalau kita mau jujur, kita ini telah mengalami kekalahan. Tahun 1950-an jumlah umat Islam itu 92 % dan sekarang tahun 2000-2013 sekitar 86 %. Sehingga ada kemerosotan sekitar 6 %. Maka jika kemerosotan ini berlanjut, jangan-jangan 200 tahun lagi umat Islam akan tinggal 70 %.

Walaupun sesungguhnya sudah ada indikator kekalahan kita dalam perlombaan dakwah, yakni melakukan perebutan wilayah keagamaan di dalam wilayah bangsa besar yang kita cintai ini. Pendidikan dan hal-hal lain kita memang semakin bertambah, tetapi sesungguhnya secara komparatif, baik quality ataupun quantity, kita itu masih kalah.

Jumlah sekolah Islam dan sekolah Kristen, masih banyak sekolah Kristen. Jumlah RS MUhammadiyah dan rumah sakit mereka (Kristen), juga masih banyak mereka. Dan jumlah per kepala pun mereka terus bertambah, sedangkan kita turun dalam kurun waktu beberapa waktu ini. (Kutipan hal. 19)

4. MENGABAIKAN SYIAR JIHAD

Bahkan saya sering mengatakan, bahwa Muhammadiyah itu diam-diam juga mempraktikkan bid’ah. Kita sering mengatakan NU bid’ah, tapi kita kadang-kadang tidak terasa juga bid’ah, cuma bid’ah mengurangi (al ibdtida’u bil nuqshan). Dimana pengurangannya? Kita tidak sadar, kita tidak tahu, karena kita merasa tidak pernah melakukannya.

Tapi lihat dalam training-training Muhammadiyah atau Aisyiyah, atau di beberapa even Muhammadiyah, hampir jarang dibahas atau didorong tentang konsep Al Qur’an yang namanya Al Jihad. Kita itu sepertinya dengan konsep jihad, kalau alergi tidak, cuma sudah cukupkah jihad itu dengan teologi Al Ma’un.

Sejak saya kecil Al Ma’un, saya di IMM Al Ma’un, saya jadi ketua PP Muhammadiyah Al Ma’un, dan sampai sekarang Alhamdulillah juga masih tetap Al Ma’un. Itu betul dan tidak salah.

Teori Al Ma’un itu tetap, tapi harus kita tambah lagi, karena yang namanya jihad itu jumlahnya sebanyak kata zakat. Kenapa kita berani membicarakan soal zakat dan lain-lain, tetapi soal jihad itu tidak pernah kita ucapkan. (Kutipan, hal. 20)

5. IKHWANUL MUSLIMIN

Saya bukan pengagum Al Ikhwan, tapi saya kira Al Ikhwan itu betul. Misalnya, (semboyan mereka): Allahu Ghayatuna (Allah tujuan kami), Ar Rasulu Qudwatuna (Rasulullah teladan kami), Al Quran Dusturuna (Al Qur’an landasan hukum kami), Al Jihad Sabiluna (Jihad jalan kami), Syahid fi Sabilillah Asma Amanina (mati Syahid di jalan Allah, cita-cita kami yang tertinggi).

Jadi mengapa Al Ikhwan seperti bergerak terus sampai ke Yordania, Eropa, Amerika, dan seterusnya. Mungkin karena kata jihad itu tidak dijauhi. Jadi kritik kita ke dalam, tiap kali kita baca Al Qur’an, jihad tidak pernah dibahas. Mungkin ini untuk para kader juga perlu dipahami. (Kutipan hal. 20)

6. PARTISIPASI POLITIK

Pada zaman Bung Karno dulu politik adalah panglima. Jika kita berbicara di tingkat realitas, justru memang politik itu adalah panglima. Definisi politik itu sebenarnya: politics is who gets what, when, and how (politik itu siapa dapat apa, kapan, dan bagaimana).

Cuma karena kita orang beriman, kita tambah dengan why. Karena hal ini merupakan niat, innamal a’malu bin niyat. Politik itu sebenarnya adalah alokator dari segenap keperluan hidup manusia, dengan keputusan modern.

Membangun itu bukan keputusan ekonomi, itu keputusan politik. Kita biarkan atau kita awasi kegiatan Zending (Kristenisasi) orang-orang asing, itu politik. Kita mau meminjam uang IMF atau Bank Dunia, itu politik.

Mengapa HPH yang sekian ratus hektar itu kita berikan si fulan dan bukan si fulan? Sekarang Papua ingin merdeka, itu juga merupakan political decision. Menghadapinya bukan dengan Tahlilan atau doa bersama; tapi juga dengan liku-liku aksi politik.

Pada waktu reformasi, hanya dengan dua atau tiga partai yang mulai berbicara di tingkat power sharing, kita bisa mendudukkan tiga anggota Muhammadiyah menjadi Menteri Pendidikan, Pak Yahya Muhaimin, Malik Fadjar, dan Bambang Soedibyo.

Tetapi sekarang untuk mendapatkan uang ratusan juta saja, kita ini berat? Karena apa? Karena politik itu alokasi, alokasi APBN, alokasi apapun itu namanya politik.

Saya ingin mengatakan, bahwa di lembar abad kedua ini kita perlu menambah wawasan kita. Apa yang sudah kita warisi dalam hal education and health terus kita tambah, tapi kita juga harus melakukan pencak silat politik, karena Islam itu kaffah.

Kita diberi Allah untuk memperkuat dunia kita ini, supaya kita di waktu mendatang bisa bersyukur dan berbahagia, bahwa Muhammadiyah itu semakin kuat, tidak lagi pinggiran.

Saya ingin Muhammadiyah tidak lagi marginal, tidak di peran pinggiran, tidak lagi menjadi penonton, tapi harus di tengah. Bukan hanya penonton, tetapi Muhammadiyah itu harus memegang kanvas, ikut melukis masa depan Indonesia.

Kalau kita ikut melukiskan, paling tidak kalau terlalu merah bisa ikut kita mudakan (warnanya), terlalu kuning bisa kita agak dekatkan ke hijau warna Islam.

Atau kalau memegang pahat, bisa ikut mengukir bersama anak bangsa yang lain, untuk masa depan negeri kita ini. Tetapi jika hanya menonton, maaf hanya plonga-plongo, maka akan sangat menyakitkan. (Kutipan hal. 20-21)

7. MENGAMBIL ORANG KAFIR SEBAGAI PEMIMPIN

Pertama-tama, kita harus mencamkan, bahwa kita ini anak-cucunya Nabi Ibrahim, anak cucunya Nabi Adam, dan sebagai pewarisnya, (kita) jangan sampai tidak punya keinginan untuk memegang imamah.

Jadi pemimpin umat manusia yang beragama Kristen, Katolik, Kong Hu Chu, Nasrani, Zoroaster, PKI, dan lain sebagainya itu; pemimpinnya seharusnya orang beriman. Tetapi (janji Allah tentang imamah pada Surat Al Baqarah 124) tidak pernah sampai, tidak pernah mengenai orang-orang yang masih zalim.

Orang zalim itu orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri, sudah tahu korupsi itu tidak boleh, malah nekat; sudah tahu bohong itu gak boleh, malah nekat.

Bahwa kepemimpinan ini amat sangat penting. Kalau menurut saya, dari Al Qur’an itu orang beriman menjadi imaman lil muttaqin dan imaman lin naas (lihat Surat Al Furqan: 74).

Nah sekarang saya beritahu, kesalahan fatal umat Islam di muka bumi, kesalahan fatal UII (Umat Islam Indonesia), kesalahan fatal umat Muhammadiyah, barangkali karena tidak memperhatikan pesan-pesan Al Qur’an.

Allah berfirman: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak member petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Al Maa’idah: 51)

(Jangan menjadikan Yahudi dan Nasrani) tempat berlabuhmu, tempat bersandarmu, tempat referensimu. Yahudi dan Nasrani itu sokong-menyokong untuk menggencet orang Islam. Itu sudah jelas untuk menghancurkan umat Islam.

Saya sudah menjelajah dunia Islam ini, saya sudah dari Malaysia sampai Merauke, dari Thailand sampai Uzbekistan, kesalahannya mereka juga tidak menyimak pesan Al Qur’an itu.

Arab Saudi itu masih adem ayem kalau sama Amerika. “Itulah sekutu kami.” Padahal itu kan Yahudi dan Nasrani, sehingga ini yang menyebabkan kita tidak bisa kuat.

Pukulan telak dan kesalahan fatal, yaitu ketika Jokowi dan Ahok itu menang menjadi Gubernur DKI. Ini membuat saya agak resah, sampai mungkin tidak bisa tidur dua atau tiga malam. Karena saya tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. (Kutipan hal. 21).

8. TANGGUNG-JAWAB KEBANGSAAN

Kalau kita melihat Al Qur’an, kita tidak boleh menjadi pupuk bawang, jadilah lokomotif. Syuhada ‘alannaas. Syuhada itu orang di depan, jadi referensi, jadi teladan, jadi contoh, di depan. Sebab tidak mungkin syuhada kok di kanan atau di kiri. Syuhada itu selalu di depan.

Bagaimanapun seandainya kalian tahu jeroan-nya Indonesia ini, umat Islam itu betul-betul hanya hanya jadi penonton. Perbankan, pertambangan, perkebunan, pertanian, kehutanan, dikuasai dan digenggam oleh mereka (orang kafir). Umat Islam ini hanya diberi remah-remah kecil, tapi yang the big goal, the biggest share, itu mereka yang genggam.

Kita ini di samping sebagai kader yang memiliki kadar Islam dan niat yang mendalam, tapi sebagai orang yang hidup di suatu bangsa, tidak ada salahnya kita juga punya semangat wathoniyah, kebangsaan, atau ketanahairan. Pandu kita bernama Hizbul Wathan, partainya tanah air.

Kata Hasan Al Bana, wathoniyah itu sesuatu panggilan yang sangat alami. Wathoniyah itu adalah sesuatu yang naluriah.

Nabi itu ketika hijrah ke Madinah, betul-betul ingin kembali ke tumpah darahnya, kembali ke Mekkah. Kembali ke masa muda, kembali ke masa kecil, itu sesuatu yang sangat alami.

Di sini saya berbeda dengan orang-orang ekstrim itu, bahwa “kebangsaan itu taghut, Islam itu menyeluruh, tidak usah ada kebangsaan. Jadi negara bubarkan saja, tidak perlu ada negara, Khilafah Islamiyah saja”.

Tapi itu kan hanya dalam imagination, kenyataannya tidak ada. Tapi dalam kebangsaan ini, saya wanti-wanti, bahwa kebangsaan itu sesuatu yang alami acceptable, dapat kita terima; tetapi dalam hal kepemimpinan bangsa, kita tidak boleh main-main. Apalagi kemudian kita serahkan (kepemimpinan) kepada orang-orang yang laisa min hum (bukan golongan Islam).

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan teman kepercayaanmu orang-orang dari luar kalanganmu, (karena) mereka tak henti-hentinya menimbulkan kemadharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka, adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali Imran: 118)

Jadi masalah leadership itu sesuatu yang sentral. Kita cinta negeri ini, kita cinta bangsa kita, kita cinta tanah air kita. Kemudian yang penting adalah mengupayakan, bagaimana agar pimpinan itu ada pada kita, sehingga bangsa ini enlighten, disinari oleh agama Islam. (Kutipan hal. 22)

9. MISSI MENEGAKKAN KEADILAN

Kemudian yang menyukai politik, yang memang terampil, biarlah masuk ke sana. Diharapkan mereka tidak kagetan, tidak gumunan, dan tidak gampang terjungkal hanya karena gebyar kilau dunia. Dalam hal ini ada cerita ringan.

Golkar itu dulu anak didiknya Pak Harto, jadi teman-teman Golkar dengan KKN itu lumayan dekat. Tapi Golkar itu mengelus dada melihat partai Islam (?) yang lebih pintar dan lebih ngawur dalam korupsi.

Saya lima tahun di MPR, teman-teman (Golkar) berkata, “Pak Amin, kami kalah Pak. Jam terbang kami sudah tiga dasawarsa, ini baru tiga tahun sudah luar biasa.” (Orang Golkar 30 tahunan korupsi dengan cara-cara yang “sopan”, tapi orang zaman reformasi baru 3 tahun memimpin cara korupsinya seperti orang kesetanan).

Kita punya kebangsaan yang harus kita kembangkan jadi kepemimpinan. Jangan lupa, dalam kebangsaan itu pun seluruh nilai Islam harus dimasukkan. Kita ini punya semboyan Amar Makruf Nahi Munkar. Itu bagus, tapi belum cukup. It is just good, but not good enough.

Di samping Amar Makruf Nahi Munkar, kita juga (perlu) mengembangkan Ya’muru bil ‘Adli wa Nahyu ‘aniz Zulmi (memerintahkan berbuat adil, mencegah kezhaliman).

Samakah orang yang jadi budak tadi itu, yang tergantung pada bangsanya itu dengan orang yang menegakkan keadilan dan dia berada di jalan yang lurus?

Kalau Allah SWT memerintahkan orang beriman menegakkan keadilan, tentu sisi yang lain, adalah mencegah kezaliman. Syirik sendiri disebut kezaliman yang teramat besar.

Muhammadiyah yang besar ini (perlu) memantau dari Papua sampai Aceh, kira-kira mana saja yang ada potongan jahitan yang bisa masuk ke gelanggang politik. Karena itu penting jangan jangan sampai ditinggalkan.

Kalau kita tidak masuk ke situ, kita seperti anak yatim piatu. Kita mau buat apapun, kalau payung politiknya tidak ramah, serba tidak bisa. Seperti Muhammadiyah di Bangkalan itu, tidak pernah bisa mengadakan Isra’ Mi’raj bersama-sama di gedung, karena (diganjal) bupati, sekda, dan lain-lain.

Dulu pernah ada menteri (pendidikan) namanya Daoed Joesoef. Waktu itu ada ratusan dosen yang mau (sekolah) ke luar negeri. Asal namanya Islam, dicoret. Walaupun tidak shalat, minum arak, kalau namanya Islam ya dihabisi. Seperti salah seorang kawan saya bernama Amirudin.

Dulu karena kita tidak punya kekuatan politik, siswa SMA negeri yang memakai jilbab diundang kepala sekolahnya, disuruh lepas jilbab atau keluar. Sekarang kalau ada seperti itu, tentu kepala sekolahnya yang disuruh keluar, karena sudah tidak zamannya lagi (melarang siswi sekolah memakai jilbab).

Dalam hal kebangsaan itu, memang harus cerdas dan selalu berpegang kepada Al Qur’an. Dan kita menghadapinya dengan optimis. Semoga Muhammadiyah abad kedua ini tidak lagi di pinggir, tapi di mainstream. Tidak lagi tangan di bawah, tetapi tangan di atas. Kalau kita kuat, kita akan menghidupi banyak orang. SELESAI. (Kutipan hal. 22-23)

Catatan penyunting:

Tidak semua pernyataan dikutip, karena teks aslinya cukup panjang dan mempertimbangkan urgensinya. Tanda kurung dan judul tematik dari penyunting, biar lebih mudah memahami. Bagian-bagian yang isinya satu tema disatukan meski posisi agak berjauhan. Bentuk percakapan bahasa daerah dan font Arabic ditiadakan, agar lebih praktis. Tulisan asli berjudul: Dialog Bersama Amien Rais, Kader Muhammadiyah di Pentas Politik; sumber ceramah Prof.Dr. H. Amien Rais dalam acara dialog kader bertema “Rapat Kerja dan Dialog Pengkaderan” di Yogyakarta pada 23-24 Februari 2013. Teks asli disusun berdasarkan transkrip ceramah oleh redaksi media, NS.

Penyunting: Abdul Hanif Fadhli, Jakarta. 
Sumber : VOA Islam

Dengar Marlis Dahlan Iskan Juga Pernah Miskin

Dengar Marlis Dahlan Iskan Juga Pernah Miskin - Matahari mulai memancarkan sinarnya yang terik meskipun pagi belum lama beranjak di atas langit Serang Banten. Dengan beriringan dua motor dan membawa bertumpuk dus susu kami mengawali perjalanan menuju sebuah Sekolah Dasar di pinggiran Kota Serang. Jalanan aspal yang semakin mengecil..beralih ke jalanan berbatu dipayungi rimbun bambu dan ladang-ladang gersang…akhirnya sampailah kami ke salah satu sekolah yang kami tuju.

Tujuan kami adalah mengantarkan Zakat, infaq, shadaqoh beberapa rekan yang hanya kami kenal lewat pertemanan di Facebook untuk disalurkan kepada siswa yatim/duafa di daerah kami serta bantuan susu donasi salah satu produsen susu terkenal di Indonesia.

Pembangunan infrastrukur sekolah yang gencar dilakukan sejak anggaran APBD Pendidikan mencapai 20% tampak begitu nyata….gedung sekolah yang representatif…nampak kontras dengan pemandangan siswa siswinya…..beberapa tidak memakai sepatu…memakai sandal japit..berbaju kusam..dengan rambut kemerahan..dan influenza yang tak kunjung sembuh.

Di SD Cigoong 3 ini kami berkenalan dengan Irma…siswi kecil dengan benjolan di antara kedua matanya. Dia adalah salah satu dari 24 siswa (berasal dari 4 Sekolah Dasar) yang akan mendapat bantuan dana ZIS yang kami bawa.

Menurut ibu gurunya…tadinya benjolan itu tidak sebesar itu. Rekan kami yang kebetulan berprofesi sebagai petugas medis bergegas meraba benjolan tersebut…dan mengatakan kemungkinan benjolan itu akan semakin membesar dan berpotensi menekan syaraf matanya. Duh…kemiskinan tidak membebaskannya dari penderitaan akibat penyakit yang lain.

Kami berbincang cukup lama dengan siswa siswi itu…tentang keluarga…tentang harapan dan juga masa depan. Menilik penampilan mereka yang rata2 berbaju kusam, berkulit kering, berat badan rendah, dan juga banyaknya diantara mereka yang menderita penyakit kulit (bahasa Jawanya, gudigen), tak diragukan mereka benar- benar berasal dari keluarga yang kehidupannya sulit. Kami membawa kisah….tentang keteladanan untuk tidak mudah berputus asa. Kisah yang kami ulang di 3 (tiga) Sekolah Dasar lain yang kami kunjungi.

Tujuan kami tidak semata menyerahkan santunan dan susu untuk penambah gizi mereka…tapi juga hadir secara hati…memberi motivasi…memberi kekuatan agar mereka mau dan mampu berusaha lebih keras lagi demi perubahan nasib mereka sendiri.

Di Tiga Sekolah Dasar lainnya (SD Cigoong 2, SD Jaha, SD Simangu) kami berjumpa dengan anak – anak yang setipe…memang menurut penjelasan Bapak/Ibu guru…sekolah mereka mempunyai prosentase siswa miskin cukup besar, antara 60 s.d 80% siswanya masuk kategori siswa miskin dengan profesi utama orang tua adalah buruh tani, pemulung, buruh, pekerja serabutan, pedangan asongan dan tidak sedikit pula yang yatim. Berada di tengah tengah mereka seperti diserap dalam pusaran kepedihan…berbaur dengan bau yang kurang sedap entah karena jarang mandi,keramas..atau tidak pakai sabun. Banyaknya yang memiliki penyakit kulit juga indikasi pola hidup sehat yang kurang. Namun hal itu tak mengurangi minat kami memeluk dan memberi sentuhan pada mereka…Biarlah….badan jadi bau bisa mandi…tapi sentuhan itu pasti akan sangat berarti bagi mereka…mengingatkan bahwa mereka manusia yang sama dan berhak untuk dicintai dan diperhatikan.

Beberapa dari mereka kami tanya profesi ayah dan ibu mereka…tak sedikit dengan suara pelan menjawab dengan lemah, “mati….” Matinya tulang punggung keluarga yang berarti suramnya juga kehidupan…

Pesan kami pada mereka adalah…pergunakan uang yang kalian peroleh hari ini utuk keperluan sekolah…beli sepatu , beli seragam, beli tas sekolah, beli buku…dan sisanya baru boleh kalian berikan pada orangtuan untuk membeli beras. Yah…beras tetaplah kebutuhan pokok yang dikejar orangtua siswa tadi…karena untuk makan besukpun mereka masih harus mencarinya hari ini.

Di sekolah terakhir yang kami kunjungi…salah seorang anak yang diprioritaskan bapak/ibu guru untuk menerima bantuan..tidak bisa hadir karena sakit. Dengan diantar oleh dua orang guru kami menuju rumah Marlis, nama siswa itu.

Sebuah rumah sangat sederhana dengan dinding tembok kusam dan sudah terkelupas…kami disambut dengan ramah oleh seorang ibu tua, Nenek Marlis…namun kekeuh tidak mengizinkan kami masuk ke rumahnya…tubuhnya menghalangi pintu. Olala…bukan karena sombong nenek itu tidak mengizinkan kami masuk rumah…namun karena dia malu dengan kondisi ruang tamunya yang banyak ayam berseliweran dan ada kandang ayamnya. Ternyata nenek Marlis meletakkan kandang ayam di dalam rumah yang gelap itu untuk menghindarkanya dari pencuri. Hal itu menjawab kenapa sekujur tubuh Marlis penuh gudig, gatal2 dari leher hingga kaki..kakinya bahkan menghitam karena banyaknya garukan…tak hanya itu..di kepala Marlis terdapat benjolan yang menurut rekan kami diperkirakan berisi cairan…yang membuatnya sering mengeluh nyeri apabila kepalanya disentuh. Kami diperlakan duduk di teras yang digelari bekas plastik karung beras yang dijahit menyerupai tikar. Mengalirlah cerita bahwa Marlis adalah anak yatim…hidup bersama neneknya sejak ibunya merantau ke Bandung untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Cerita yang hampir mirip dengan teman2nya sebelumnya yang kami kunjungi sebelumnya di sekolah.

Seperti juga kepada teman2nya….kepada Marlis kami ceritakan tentang kisah hidup pak Dahlan Iskan…menteri BUMN negara kita yang masa kecilnya juga mengalami hidup yang sulit. Tumbuh sebagai piatu di keluarga miskin, rumahnya berlantai tanah, dan cita cita terbesarnya adalah memiliki sepatu dan sepeda. Tentang pak Dahlan yang kalau lapar harus mencari sendiri makanan di kebun…merebus daun singkong atau mencabut dan merebus ubi sebagai ganjal perutnya yang lapar. Tentang pak Dahlan Iskan yang mensyukuri hidupnya dengan mengatakan bahwa lantai tanah adalah pampers termurah didunia karena langsung menyerap air apabila dia ngompol :D Tentang pak Dahlan Iskan yang tak pernah menyerah dengan kemiskinan….terus belajar dan bekerja keras sehingga akhirnya sukses menjadi pengusaha yang memiliki ratusan perusahaan dan dipercaya oleh presiden menjadi menteri BUMN karena prestasinya. Intinya adalah…..bahwa Marlis dan teman teman tidak boleh menyerah pada kemiskinan…harus selalu semangat belajar dan bekerja keras karena yang bisa merubah nasib kita adalah kita sendiri….kami ajari mereka untuk memiliki optimisme dan mimpi melampaui pak Dahlan Iskan….

Ayo Marlis dan teman-teman……kalian pasti bisa…
Sumber : Kompasiana

Saturday, 28 September 2013

Mengapa Pak Amien Terus Serang Jokowi-Hatta?

Saya adalah salah simpatisan PAN di daerah, tepatnya Jawa Timur. Sebagai founder partai dan tokoh reformasi 1998, nama Pak Amien Rais bagi kami ibarat inspirasi dalam setiap langkah politik. Namun semakin saya menyimak sikap dan manuver Pak Amien—khususnya akhir-akhir ini—saya jadi heran, kenapa Pak Amien seperti itu? Apa yang saya maksud tentu terkait kritikan tajam Pak Amien ke Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dan kadernya sendiri, Ketua Umum PAN, Hatta Rajasa. Terbaru ke Jokowi, Amien menyatakan agar rakyat Indonesia tak salah pilih pada 2014 mendatang, dengan memilih politisi yang hanya mengandalkan popularitas. Lebih jauh, beliau menyamakan “level” Jokowi dengan Joseph Estrada, Presiden Filipina yang terpilih secara mutlak namun dijatuhkan hanya dalam waktu dua tahun. Pak Amien seakan mem-framing, kualitas Jokowi tak jauh berbeda dengan Estrada yang beliau sebut suka mabuk-mabukan dan tidak kompeten. “Jokowi lebih baik sedikit lah, tapi intinya sama, mengandalkan popularitas”, ujar Amien.
Sebelumnya, dalam dua bulan terakhir, Pak Amien sudah dan terus menyerang mantan Walikota Solo ini sebagai pribadi yang tak kompeten. Apa yang media simpulkan sebagai “prestasi Jokowi” di Solo, menurut Amien, tak lebih dari pepesan kosong. Sebagai orang yang “tahu banyak” tentang kota Solo, Amien menegasikan semua kerja Jokowi yang bahkan dianugerahi sebagai salah satu Walikota Terbaik Dunia sebagai pencitraan semata. Ia justru “membenturkan” Jokowi dengan wakilnya—FX Hadi Rudyatmo—dimana ia menegaskan FX Rudi-lah yang bekerja, bukan Jokowi! Pertanyaanya adalah, mengapa Pak Amien sibuk menyerang Jokowi akhir-akhir ini, atau jelang Pilpres 2014? Bila memang Pak Amien memiliki “catatan buruk” politisi ndeso ini, seharusnya ia sudah memberikan penyadaran ke publik saat Jokowi maju di Pilgub Jakarta tahun lalu. Hanya Pak Amien yang tahu alasannya.
Sekedar alasan atau ada agenda yang lebih besar? Yang pasti apa yang dilakukan Pak Amien terhadap Jokowi tidak hanya berdampak bagi dirinya, melainkan juga partai PAN. Secara personal, Pak Amien yang sudah “mundur” dari panggung politik nasional tidaklah terlalu terpengaruh atas manuver apapun yang ia lakukan. Tetapi bagi partai, ini jelas langkah yang kurang tepat. Suka atau tidak, Jokowi terpilih secara demokratis oleh rakyat Jakarta. Itu artinya masyarakat ibu kota merindukan sosok yang dianggap mampu menyelesaikan himpitan problem hidup mereka yang hampir menjadi “tradisi”, seperti banjir dan kemacetan. Jokowi juga tidak terpilih secara “mayoritas mutlak”, layaknya Orde Baru. Ia harus bersaing untuk menang, bahkan melalui dua putaran. Dengan “menantang arus” massa menolak Jokowi dengan alasan-alasan yang kurang kuat, itu sama dengan menurunkan citra PAN. Nantinya partai ini akan dianggap tidak paham kebutuhan rakyat dan hanya sibuk bermanuver untuk kebutuhan sesuatu yang high politics. Sementara rakyat hanya ingin hal-hal sederhana, termasuk pemimpin yang sederhana ala Jokowi.
Bila logikanya demikian, sejatinya target Pak Amien bukanlah Jokowi, melainkan Ketua Umumnya sendiri, yaitu Hatta Rajasa. Kok bisa? Begini, beberapa bulan terakhir beredar isu kuat Hatta akan berpasangan dengan Jokowi di Pilpres 2014 nanti. Kedua tokoh juga kerap bertemu, baik secara formal maupun informal. Jokowi melihat Hatta sebagai politisi yang tak suka menyerang lawan, lebih banyak bekerja dan tahu hal-hal teknis. Ini sekaligus kekurangan Jokowi yang bisa dititup Hatta. Jokowi selama ini memang belum teruji bila berbicara menyangkut fiskal, economy policy maupun menstabilkan politik tingkat tinggi. Hatta dengan jam terbangnya punya itu semua. Ia adalah katalisator membaiknya hubungan Mega dan Presiden SBY. Ia juga arsitek ekonomi nasional dengan hasil nyata, pertumbuhan di atas 6% (terbaik kedua dunia) dari 2009 hingga 2012. Di sisi lain, Jokowi mencerminkan pribadi yang sederhana, tak neko-neko dan bisa diterima publik. Klop!
Mari simak langkah Pak Amien mengenai dua tokoh di atas. Saat Hatta belum dekat dengan Jokowi, Amien berkali-kali menyatakan bahwa kadernya, yang populer dengan inisial HR adalah sosok yang tepat memimpin negeri ini ke depan. Misalnya pada 2011, dimana pak Amien menyebut Bang Hatta sebagai calon satu-satunya dari PAN. “…ada beberapa hal yang membuat saya yakin Hatta Rajasa menjadi satu-satunya capres PAN 2014”, ujar Amien (http://www.pikiran-rakyat.com/node/154381). Seiring waktu berjalan dan mulai terbukanya komunikasi PAN-PDIP dan Jokowi dengan Hatta, Amien bahkan menilai duet keduanya sangat pas dan tepat. “Jokowi-Hatta Rajasa mirip-mirip dengan Bung Karno dengan Hatta. Jadi, Bung Karno itu pemersatu bangsa, solidarity maker, sementara Bung Hatta menekuni administrasi, problem solver”, kata Pak Amien (http://news.okezone.com/read/2013/07/18/339/838653/amien-rais-ngebet-ingin-duetkan-jokowi-hatta). Kini semua seakan berbeda. Amien juga seperti tak pernah mengatakan dua hal di atas. Politik memang tak pernah peduli dengan kata-kata yang diucapkan.
Setelah menyerang Jokowi sebagai tokoh sekelas Estrada, Amien secara konsisten juga “menghabisi” kadernya sendiri, Hatta Rajasa. Bahkan “eksekusi politik” terakhir ke HR dilakukan di “rumah” sendiri, yaitu forum Rakernas PAN, Agustus 2013. Pak Amien menegasikan semua kerja keras Hatta mengawal ekonomi Indonesia dengan menyebut, ekonomi berjalan tanpa arah dan hancur-hancuran. Kok bisa ya tokoh sentral PAN menghajar anak buahnya sendiri di publik? Begitu kata seorang teman yang hadir di Rakernas itu. Ini bukan pendidikan politik yang baik bagi bangsa ke depan. Seharusnya Pak Amien sebagai tokoh bangsa, mengajari bangsa ini untuk mampu menempatkan, mana ruang publik, mana ruang organisasi. Walaupun tidak setuju, namun bila itu masuk di ranah organisasi, seharusnya bisa diselesaikan di internal organisasi. Bukan diungkapkan di pidato politik yang disiarkan live ke seluruh negeri. Dan itu terlihat di atmosfer Rakernas, dimana kader-kader PAN lebih bergemuruh kala Bang Hatta naik ke panggung dan mengajak para kadernya melakukan aksi nyata, tak sekedar wacana. Hatta cukup pede dengan pidatonya karena ekonomi di tangannya harus diakui berada pada titik cukup baik, walaupun masih ada beberapa pekerjaan rumah. Pertumbuhan ekonomi stabil dalam lima tahun, realisasi FDI juga di grafik positif dan yang terbaru, daya saing Indonesia melesat dari urutan 50 ke 38 dari 180 negara (Rilis WEF September 2013).
Dengan melihat semua rangkaian fakta-fakta di atas, kemungkinan agenda Pak Amien memang mengabisi peluang Hatta untuk maju sebagai Capres maupun Cawapres pada 2014 nanti. Untuk soal yang beginian, Pak Amien memang jagonya. Pasca 1999, Amien adalah otak di balik tergusurnya Megawati dari kursi Presiden. Dengan kendaraan Poros Tengah, Pak Amien yang sebenarnya tak terlalu nyambung dengan Amdurrahman Wahid (Gusdur), mendadak berkoalisi dan menyokong Gusdur. Sejarah mencatat, Poros Tengah menerima nama Gusdur dan mendorongnya. Pak Amien di belakang manuver tingkat tinggi ini. Namun sejatinya itu bukan keberhasilan Amien, melainkan sosok populis Gusdur yang diterima semua faksi di Poros Tengah. Belum tentu bila Pak Amien mengajukan namanya sendiri untuk menjegal Mega, skenario akan berhasil.
Belum lama mendukung Gusdur, mendadak Amien dengan “pedang” sebagai Ketua MPR mendongkel Gusdur dari krusi presiden (Juli 2001). Amien meyakinkan Poros Tengah untuk (kali ini) menyokong Mega ke kursi yang seharusnya ia dapatkan di 1999. Dan keraguan alasan pendongkelan Gusdur terkonfirmasi saat ini, dimana ia dinyatakan bersih oleh pengadilan, tidak terlibat skandal korupsi Buloggate dan Bruneigate. Pak Amien meminta maaf? Publik tak banyak mendengar itu, setidaknya hingga hari ini. Sampai tahun pemilu 2004, Pak Amien mencoba peruntungan dengan maju sebagai Capres dalam sistem pilihan langsung. Bermodal predikat sebagai “tokoh reformasi” ia berharap predikat tersebut dapat dikapitalisasi menjadi suara yang massif. Faktanya? Amien gagal lolos putaran kedua, kalah bersaing dengan Mega dan SBY. Pasca 2004 Pak Amien tak juga slow down dan mendinginkan mesin. Sebaliknya, ia terus mengecam pemerintahan SBY-JK dan kini SBY-Boediono yang ia sebut sebagai antek asing, melanggar UUD 1945 dan kapitalis. Ide-ide yang sama, seperti yang ia tudingkan ke muka Suharto di tahun 1998.
Namun zaman sudah berubah, masyarakat kian cerdas. Ide-ide bombastis seperti di atas tak lagi ditelan mentah-mentah oleh publik. Sebaliknya, mereka mencari tahu dari semua sumber—karena itu dimungkinkan di era press freedom sekarang ini. Serangan-serangan Amien ke SBY soal antek asing misalnya, dibenturkan dengan fakta-fakta renegosiasi kontrak karya yang justru menekan MNC-MNC itu. Ide melanggar UUD 1945 terutama pasal 33, dihadapkan dengan fakta makin mengkilapnya kinerja sejumlah BUMN akhir-akhir ini. Juga adanya kebijakan khusus terkait rakyat kecil dalam skema pro job, pro poor dan pro enviroment. Dalam situasi yang demikian, Amien hanya bisa meledakkan isu-isu “hot”, namun publik tak lagi melihatnya sebagai satu-satunya kebenaran. Akhirnya suara Pak Amien mengalir begitu saja, tanpa tekanan yang berarti.
Dalam lingkup PAN saat ini, apa yang ditunjukkan Pak Amien dengan menyerang Jokowi dan Hatta sendiri, merupakan potret politik yang terlepas dari frame-nya. Maksudnya, zaman sudah berubah, tantangan juga berubah. Bila di awal-awal reformasi partai harus menyerang lawan politik untuk mendapatkan dukungan rakyat, kini cara tersebut tak efektif lagi. Kemenangan Partai Demokrat dan SBY dalam satu putaran pada Pilpres 2009 di tengah kecaman dan cacian lawan politik menunjukkan bahwa rakyat menunggu kerja dan aksi nyata partai membangun bangsa, daripada sibuk menyerang satu sama lain. Itu pula yang diyakini Hatta, bahwa political behavior PAN tidak mungkin sama lagi dengan masa lalu yang selalu attacking to government. Sebagai wakil PAN di pemerintahan KIB II, tentu tidak logis bila Hatta menyerang pemerintahan yang dijalankannya sendiri. Ini pelajaran demokrasi sederhana yang kerap dikebiri oleh pihak-pihak yang mengaku penyokong demokrasi. Di negara demokrasi manapun—termasuk AS yang kita anggap paling mapan praktek demokrasinya—tidak ada ceritanya kader Demokrat (dan koalisinya) menyerang pemerintahan Presiden Barrack Obama. Kalaupun ada perbedaan pendapat, itu seharusnya diselesaikan di internal partai, dan bukan dijajakan ke publik. Nah ini yang lama absen dari politisi-politisi kita produk reformasi, dimana semua merasa paling benar sehingga tidak pernah bisa bekerjasama dan bersatu. Padahal, kebersamaan adalah modal sebuah bangsa untuk maju. Tidak ada yang lain.
Kita tunggu episode apa lagi yang akan “digarap” Pak Amien untuk Jokowi dan Hatta Rajasa.*** 

Sumber : Kompasiana

 

Artikel :

Artikel :

Artikel :